Reksa Dana atau Danareksa?

Reksa dana dan Danareksa sering menjadi kata tertukar bagi sebagian orang. Terutama untuk orang yang masih baru di dunia pasar modal. Jangankan begitu, terkadang orang yang sudah lama pun masih tertukar. Jadi sebetulnya yang benar itu reksa dana atau danareksa ya? Sebetulnya reksa dana dan Danareksa merupakan dua hal yang berbeda. Danareksa merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang keuangan.

Berbeda dengan Danareksa, Reksa dana sendiri merupakan produk dari sebuah perusahaan asset management. Produk reksa dana ini sendiri merupakan kumpulan dana investor yang dikelola oleh manajer investasi. Karena produk ini sudah ada yang mengelola, maka hal tersebut mempermudah beberapa calon investor yang belum memahami pasar modal untuk berinvestasi.

Kemudahan yang ditawarkan oleh reksa dana sebagai produk investasi tidak membuat kita menjadi asal pilih produk reksa dana dalam berinvestasi. Karena reksa dana sendiri terdiri dari beberapa jenis reksa dana, dimana setiap jenisnya memiliki profil yang berbeda. Jika kamu mau berinvestasi di reksa dana, maka mengenal setiap jenis reksa dana merupakan hal wajib yang harus diketahui. Hal ini sangat penting agar kamu terhindar dari memilih produk yang tidak sesuai dengan profil kamu. Adapun jenis – jenis reksa dana, simak di bawah ini ya.

  1. Reksa Dana Pasar Uang

Reksa Dana Pasar Uang adalah reksa dana yang mempunyai kebijakan untuk berinvestasi sampai 100 persen pada instrumen pasar uang. Yang dimaksud dengan instrumen pasar uang adalah surat berharga yang jatuh temponya tidak lebih dari 1 tahun, termasuk deposito di bank. Surat Utang yang diterbitkan oleh korporasi dan negara seperti Obligasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel, juga termasuk pasar uang apabila pada saat reksa dana membeli obligasi tersebut, jatuh temponya tidak lebih dari 1 tahun.

Reksa dana ini memiliki risiko yang paling rendah karena investasinya di instrumen yang likuid alias mudah dicairkan dan cocok untuk kamu yang punya profil risiko sangat konservatif. Namun imbal hasil yang didapatkan dari reksa dana ini juga paling rendah dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya tapi tetap memberikan tingkat pengembalian di atas bunga deposito di bank.

  1. Reksa Dana Pendapatan Tetap

Reksa Dana Pendapatan Tetap adalah reksa dana yang mempunyai kebijakan untuk berinvestasi minimal 80 persen pada efek utang atau instrumen obligasi dengan jatuh tempo di atas 1 tahun.

Kenapa disebut pendapatan tetap? Hal ini karena penerbit Efek Utang secara konsisten memberikan pembayaran bunga (kupon) yang tetap kepada para pemegang efek tersebut.  Dalam reksa dana pendapatan tetap, manajer investasi akan menginvestasikan kembali bunga yang diterima dari efek utang tersebut, sehingga hasil investasi reksa dana tersebut dapat menjadi lebih optimal.

Walaupun efek utang atau obligasi juga kerap disebut sebagai efek pendapatan tetap, pada kenyataannya harga obligasi dapat bergerak naik maupun turun akibat perubahan tingkat suku bunga. Ketika tingkat suku bunga turun, secara teori harga obligasi akan naik. Sebaliknya ketika tingkat suku bunga, maka harga obligasi akan turun.  Seperti layaknya instrumen investasi lainnya, faktor supply dan demand juga turut mempengaruhi pergerakan harga obligasi.  Selain itu, karena obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh suatu entitas, maka terdapat risiko wanprestasi (tidak sesuai dengan perjanjian) dari penerbit obligasi tersebut.

Reksa dana ini memiliki tingkat risiko di atas reksa dana pasar uang dan cenderung di kisaran konservatif hingga menengah, tergantung dari strategi investasi reksa dana tersebut serta seberapa besar eksposurnya terhadap risiko wanprestasi dari penerbit obligasi.

  1. Reksa Dana Saham

Reksa Dana Saham adalah reksa dana dengan tingkat risiko paling agresif karena mempunyai kebijakan untuk berinvestasi pada saham minimal sebanyak 80 persen dari total nilai aktiva bershinya.

Dibandingkan dengan jenis instrumen lainnya, saham merupakan instrumen yang mampu memberikan potensi keuntungan yang paling tinggi namun begitu pula dengan tingkat risikonya. Pergerakan harga saham cenderung sangat fluktuatif, sehingga reksa dana ini cocok untuk investor dengan profil risiko agresif.

  1. Reksa Dana Terproteksi

Reksa Dana Terproteksi adalah jenis Reksa Dana yang akan memproteksi 100% pokok investasi investor pada saat jatuh tempo. Reksa Dana ini juga memiliki jangka waktu investasi yang telah ditentukan sebelumnya oleh Manajer Investasi, namun dapat dicairkan sebelum jatuh tempo tanpa jaminan adanya proteksi akan pokok investasi.

Berbeda dengan Reksa Dana Terbuka dan Reksa Dana Indeks, Reksa Dana Terproteksi memiliki masa penawaran sehingga investor hanya dapat membeli Reksa Dana ini pada saat tertentu saja. Terkait manfaat, risiko, kewajiban, serta cara membeli Reksa Dana Terproteksi relatif sama dengan produk atau jenis Reksa Dana lainnya.

  1. Reksa Dana Campuran

Reksa Dana Campuran adalah reksa dana yang mempunyai kebijakan untuk berinvestasi pada instrumen saham, obligasi dan pasar uang dengan komposisi masing-masing paling banyak 79 persen. Ketiga instrumen tersebut harus dimiliki oleh reksa dana campuran pada saat yang bersamaan, artinya tidak boleh memiliki hanya dua dari ketiga instrumen tersebut.

Pada praktiknya, alokasi investasi reksa dana campuran sangat beragam. Ada yang porsi investasi sahamnya lebih besar, ada yang memiliki porsi obligasi yang lebih besar, dan ada juga yang komposisinya berimbang.  Karena keragaman komposisi instrumen tersebut, investor harus mencermati terlebih dahulu porsi alokasi yang dipilih oleh Manajer Investasi, agar dapat menyesuaikan profil risiko investor dan reksa dana yang akan dipilih.  Reksa dana campuran yang mempunyai komposisi saham lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya, secara otomatis juga mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi.

  1. Reksa Dana Syariah

Reksa Dana Syariah adalah wadah untuk menghimpun dana masyarakat yang dikelola oleh badan hukum yang bernama Manajer Investasi, untuk kemudian diinvestasikan ke dalam surat berharga seperti : saham, obligasi, dan instrumen pasar uang yang sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah Islam antara lain dengan portofolio penempatan dana di instrumen keuangan syariah seperti saham syariah dan sukuk.

Ketika Anda ingin membeli reksa dana melalui Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), Anda akan diharuskan untuk mengisi kuesioner profil risiko. Hasil dari kuesioner tersebut merupakan panduan bagi investor dalam menentukan apakah profil risiko investor tersebut sangat konservatif, konservatif, moderat dan agresif. Pada dasarnya semakin agresif seseorang, maka semakin agresif pula pilihan reksa dananya.  Namun, selalu ingat konsep dasar dalam berinvestasi: High Risk High Return; Low Risk Low Return!